Fto:Bentengi Generasi Muda dari Pengaruh Negatif, Yayasan Santo Paulus Gandeng Polsek Medan Labuhan Tanamkan Karakter dan Kesadaran Hukum Sejak MPLS
Medan Labuhan,WK – Suasana Aula Yayasan Santo Paulus, Rabu (15/7/2026), tampak berbeda. Ratusan siswa baru mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bukan hanya untuk mengenal lingkungan belajar mereka, tetapi juga mendapatkan bekal penting tentang bagaimana menjaga masa depan di tengah derasnya arus pergaulan dan perkembangan teknologi.
Sebagai bentuk komitmen menciptakan generasi muda yang unggul, berkarakter, dan beriman, Yayasan Santo Paulus menggandeng Polsek Medan Labuhan untuk memberikan pembinaan kepada peserta didik baru mengenai berbagai persoalan yang saat ini mengancam kalangan remaja, mulai dari kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, minuman keras (miras), aksi geng motor, bullying, judi online hingga bahaya pergaulan bebas dan pelecehan seksual.
Kolaborasi dunia pendidikan dan kepolisian tersebut mendapat sambutan hangat dari para siswa. Mereka mengikuti setiap materi dengan antusias, menyimak penjelasan, hingga aktif berdialog dengan para narasumber. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya diberikan di ruang kelas, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk aparat kepolisian.
Materi pembuka disampaikan Kanit Binmas Polsek Medan Labuhan, AKP J. Siagian, yang menekankan pentingnya membangun karakter sejak usia sekolah. Menurutnya, masa remaja merupakan fase yang sangat menentukan arah kehidupan seseorang sehingga setiap pelajar harus memiliki keberanian untuk mengatakan tidak terhadap segala bentuk perilaku yang melanggar hukum maupun norma sosial.
Di hadapan para siswa, AKP J. Siagian mengingatkan bahwa narkoba, minuman keras, tawuran, hingga geng motor hanya akan menghancurkan cita-cita dan masa depan. Karena itu, para pelajar harus mampu memilih lingkungan pergaulan yang sehat dan produktif.
“Sebagai pelajar, kalian harus berani menolak narkoba, miras, tawuran maupun geng motor. Isi waktu dengan kegiatan positif seperti belajar, berolahraga, mengikuti ekstrakurikuler, mengembangkan bakat, membaca, serta rajin beribadah. Dengan begitu kalian akan tumbuh menjadi generasi yang berprestasi dan menjadi kebanggaan keluarga, sekolah, bangsa, dan negara,” ujar AKP J. Siagian.
Ia juga mengajak seluruh siswa untuk memiliki pola pikir kritis, disiplin, bertanggung jawab, serta memperkuat iman sebagai benteng utama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era digital.

Materi berikutnya disampaikan AIPTU J. Sipahutar yang secara khusus mengangkat persoalan bullying atau perundungan yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah maupun media sosial.
Dalam paparannya, AIPTU J. Sipahutar menjelaskan bahwa bullying bukan sekadar candaan antarteman. Bullying merupakan tindakan menyakiti orang lain secara sengaja, baik melalui kekerasan fisik, ejekan, hinaan, intimidasi, pengucilan, maupun melalui media sosial atau cyberbullying.
Menurutnya, tindakan tersebut dapat menimbulkan trauma berkepanjangan, menurunkan rasa percaya diri korban, mengganggu kesehatan mental, bahkan memengaruhi prestasi belajar.
“Jangan pernah menjadikan kekurangan teman sebagai bahan ejekan. Hormati setiap perbedaan, baik suku, agama, kondisi ekonomi, kemampuan belajar maupun fisik. Sekolah adalah rumah kedua yang harus menjadi tempat aman dan nyaman bagi semua siswa,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh peserta didik membangun budaya saling menghargai, saling mengingatkan, dan saling melindungi. Jika menemukan tindakan perundungan, siswa diminta tidak takut melaporkan kepada guru atau pihak sekolah agar dapat segera ditangani.
Tak hanya membahas bullying, AIPTU J. Sipahutar juga mengingatkan siswa mengenai ancaman judi online yang kini semakin mudah diakses melalui telepon genggam.
Menurutnya, banyak remaja terjebak dalam perjudian digital karena tergiur janji keuntungan instan. Padahal, praktik tersebut justru menimbulkan kerugian ekonomi, memicu kecanduan, merusak hubungan keluarga, bahkan dapat menyeret pelakunya pada tindak pidana lainnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pergaulan agar terhindar dari seks bebas maupun segala bentuk pelecehan seksual yang merupakan tindakan melanggar hukum dan dapat merusak masa depan pelaku maupun korban.
“Kalian adalah generasi penerus bangsa. Jangan rusak masa depan hanya karena rasa penasaran atau ikut-ikutan teman. Bijaklah menggunakan media sosial, jauhi judi online, hormati diri sendiri dan orang lain, serta bangun pergaulan yang sehat,” pesannya.
AIPTU J. Sipahutar juga memberikan kiat membangun persahabatan yang baik, yakni dengan memilih teman yang memberikan pengaruh positif, menjaga komunikasi yang santun, menghargai perbedaan pendapat, menyelesaikan masalah melalui dialog, serta saling mendukung dalam meraih prestasi.
“Kalian semua adalah keluarga besar Yayasan Santo Paulus. Jadilah sahabat yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Jadikan sekolah ini sebagai tempat tumbuhnya persaudaraan, kepedulian, dan semangat untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bhabinkamtibmas Kelurahan Besar, AIPTU Eddy, yang menyampaikan dukungannya terhadap upaya pembinaan karakter pelajar melalui sinergi antara kepolisian dan lembaga pendidikan.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Yayasan Santo Paulus menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polsek Medan Labuhan yang telah meluangkan waktu memberikan pembinaan kepada peserta didik baru. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keberhasilan membentuk karakter, moral, disiplin, serta kepatuhan terhadap hukum.
“Kami berharap kerja sama antara Yayasan Santo Paulus dan Polsek Medan Labuhan terus berlanjut dalam berbagai program pembinaan. Sinergi ini menjadi investasi penting untuk mencetak generasi muda yang cerdas, berkarakter, beriman, disiplin, taat hukum, serta mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Melalui kegiatan MPLS yang mengedepankan pendidikan karakter tersebut, Yayasan Santo Paulus menegaskan komitmennya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mencetak siswa berprestasi di bidang akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang tangguh, berintegritas, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menjadi generasi penerus bangsa yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan keimanan.
(tar)












