Fto: sekjen ASDM Medan syahbudi SH
MEDAN,WK — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan penghasilan pengemudi ojek online (ojol) meningkat hingga dua kali lipat setelah pemangkasan potongan aplikator, mendapat penolakan tegas dari para pengemudi di lapangan. Klaim itu dinilai jauh dari kenyataan yang dirasakan para driver sehari-hari.
Syah Budi, Sekretaris Jenderal Aliansi Solidaritas Driver Medan (ASDM), mengatakan pernyataan tersebut sangat ironis dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Apa yang disampaikan Bapak Presiden sangat ironis. Di lapangan, kami justru merasakan sebaliknya — penghasilan kami semakin menurun, bukan naik dua kali lipat,” ungkap Syah Budi, Jumat (18/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa meskipun potongan aplikator telah diturunkan, kenyataannya jumlah pesanan justru semakin sedikit. Sistem yang diterapkan saat ini juga membebani pengemudi: satu driver dipaksa mengerjakan beberapa pesanan sekaligus, sehingga pelayanan terganggu dan pendapatan per pesanan menjadi tidak sebanding. Di sisi lain, jumlah driver yang terus bertambah membuat persaingan semakin ketat.
“Satu orang driver sekarang harus mengerjakan beberapa pesanan sekaligus, sementara pesanan yang tersedia semakin sedikit. Belum lagi sampai saat ini, Grab di Medan masih terus membuka pendaftaran driver baru. Semakin banyak pengemudi, semakin kecil jatah yang kami dapatkan,” tambahnya.
Syah Budi menegaskan, tanpa pengendalian jumlah driver dan perbaikan sistem alokasi pesanan, pemangkasan potongan saja tidak cukup untuk meningkatkan kesejahteraan para pengemudi.
“Jangan hanya melihat angka di atas kertas. Turun ke lapangan, tanyakan langsung pada kami. Yang kami butuhkan bukan sekadar potongan dikurangi, tapi keseimbangan antara jumlah pesanan dan jumlah driver, serta sistem yang tidak membebani kami,” tegasnya.
Hingga saat ini, ribuan pengemudi ojek online di Kota Medan masih berharap adanya kebijakan yang lebih adil dan berpihak pada keberlangsungan hidup para pekerja ekonomi digital ini.
(red)












