Foto: Nek Rosnani (80) berdiri di depan gubuk kayu yang nyaris ambruk di Kelurahan Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan,
BELAWAN,WK – Julukan “Kota Dollar” yang melekat pada Belawan seolah menjadi ironi bagi kehidupan sebagian warganya. Di tengah megahnya Pelabuhan Internasional Belawan, gedung-gedung milik BUMN, serta aktivitas ekspor-impor bernilai miliaran rupiah setiap hari, masih ada warga lanjut usia yang harus menjalani hidup di gubuk reyot yang nyaris ambruk tanpa perhatian memadai.
Salah satunya adalah Nek Rosnani (80), warga Kelurahan Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, yang selama puluhan tahun hidup dalam kemiskinan ekstrem. Potret memilukan itu ditemukan Tim Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) saat menyalurkan bantuan sembako, Senin (13/7/2026).
Rumah berukuran sekitar 3×3 meter yang ditempatinya bersama sang adik nyaris tak lagi layak disebut sebagai hunian. Lantai kayu telah lapuk dimakan usia, atap berlubang membuat air hujan bebas masuk, sementara saat banjir rob datang, keduanya hanya bisa bertahan di atas dipan kayu agar tidak terendam.
Yang lebih menyayat hati, keterbatasan ruang memaksa mereka makan dan buang air besar di ruangan yang sama karena tidak memiliki fasilitas sanitasi yang layak.
“Selama ini saya tidak mendapat bantuan. Katanya nanti baru akan dapat bantuan dari pemerintah,” ujar Nek Rosnani lirih.
Kisah Nek Rosnani menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Di kawasan yang dikenal sebagai pusat ekonomi Sumatera Utara, berdiri megah Pelabuhan Belawan, kantor-kantor BUMN, serta perusahaan-perusahaan besar yang setiap hari menikmati denyut ekonomi kawasan tersebut. Namun, di balik kemegahan itu, masih ada warga yang berjuang bertahan hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas program pengentasan kemiskinan yang dijalankan Pemerintah Kota Medan. Di tengah berbagai program sosial yang terus digaungkan, masih ditemukan warga lansia yang hidup tanpa rumah layak dan mengaku belum menikmati bantuan pemerintah.

Tak hanya pemerintah, perusahaan-perusahaan besar dan BUMN yang beroperasi di Belawan juga dinilai memiliki tanggung jawab sosial melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Kehadiran investasi dan aktivitas bisnis berskala besar seharusnya turut membawa dampak nyata bagi masyarakat sekitar, terutama mereka yang hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Potret kehidupan Nek Rosnani menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya gedung, ramainya pelabuhan, atau besarnya nilai investasi. Pembangunan sejatinya baru bermakna ketika warga yang paling rentan pun dapat merasakan kehidupan yang layak, aman, dan bermartabat.
Selama masih ada lansia yang bertahan hidup di gubuk nyaris roboh di tengah kawasan yang dijuluki “Kota Dollar”, maka kemajuan Belawan belum sepenuhnya menjadi milik seluruh warganya. Pemerintah Kota Medan, BUMN, dan perusahaan-perusahaan di kawasan Belawan diharapkan menjadikan kondisi ini sebagai panggilan untuk memperkuat kepedulian sosial dan memastikan tidak ada lagi warga yang tertinggal di tengah geliat pembangunan.
(tar)












